Seni Tradisional Randai di Lubuk Basung Tetap Eksis Dimasa Kini

Seni Tradisional Randai di Lubuk Basung Tetap Eksis Dimasa Kini
Seni Tradisi Randai di Lubuk Basung

Laporan Depitriadi, - Lubuk Basung

Meski tak seriuh dua dekade sebelumnya, seni tradisi Minangkabau Randai boleh dibilang tetap eksis di masa kini. Pasalnya sejumlah remaja di Lubuk Basung masih semangat mendalami teaterikal ala Minangkabau tersebut.

Bagi Kelompok Randai Antokan Sakti, seni yang mengombinasikan gerak silat dan kepiawaian bertutur itu dijadikan sarana membentengi generasi muda dari huru-hara.

“Pada dasarnya, selain melestarikan tradisi klasik nenek moyang, kami juga ingin mengajak anak-anak sekarang untuk tidak terpengaruh dengan huru-hara yang merusak masa depan, ” ujar Ketua Randai Antokam Sakti, Maizul Amri St. Pamenan.

Selain itu, pendirian sangar randai yang dinakhodainya juha ingin mengembalikan jati diri generasi Minang yan cintai budaya sendiri.

Menurutnya, pergaulan muda-mudi di zaman moderen ini akan tidak terkontrol jika tidak ada wadah yang dapat menempa karakter dan kepribadian.

Dijelaskan lebih lanjut soal randai, Maizul Amri St. Pamenan menyebut randai merupakan salah satu permainan tradisional asli Minangkabau.

Dalam permainan ini, sekelompok pemain akan berdiri membentuk lingkaran kemudian berjalan perlahan-lahan dengan gerakan silat yang sudah dimodifikasi.

“Masing-masing pemain akan menyampaikan nyanyian-nyanyian yang bercerita, juga ada satu tukang dendang yang menyampaikan alur cerita, ” jelasnya.

Dikatakan, randai dalam sejarah Minangkabau konon kabarnya sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.

Randai di Minangkabau seni teaterikal yang memainkan kaba atau hikayat Minang, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.

Pada awalnya, tukasnya lagi, randai merupakan media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau.

Maizul Amri St. Pamenan menambahkan melalui gerakan dan cerita yang dimainkan ada hikmah atau pesan moral yang dapat diambil. Menurutnya sebelum memulai permainan ataupun alur cerita yang dimainkan menggambarkan jati diri Minangkabau yang mempedomai falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

“Ini yang kita yakini bisa menjadi pegangan anak-anak muda untuk menghadapi masa depan, tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan, ” ujarnya.

Meski anak muda sekarang sudah terlanjur terlena dengan hiburan masa kini, dirinya optimis seni teaterikal ala Minangkabau tersebut tetap mendapat tempat di hati generasi muda Minangkabau.

(*)

Zul Abrar

Zul Abrar

Previous Article

Masjid Siti Manggopoh Saksi Sejarah Tempat...

Next Article

PKBM Literavokasi Lawang Buka Paket Kesetaraan

Related Posts

Peringkat

Profle

Syafruddin Adi

Achmad Sarjono

Achmad Sarjono verified

Postingan Bulan ini: 219

Postingan Tahun ini: 658

Registered: Sep 25, 2020

Herman Djide

Herman Djide verified

Postingan Bulan ini: 97

Postingan Tahun ini: 1050

Registered: Sep 22, 2020

salehwagidi

salehwagidi

Postingan Bulan ini: 77

Postingan Tahun ini: 93

Registered: Apr 16, 2021

H. Syamsul Hadi, S.Pd

H. Syamsul Hadi, S.Pd

Postingan Bulan ini: 71

Postingan Tahun ini: 215

Registered: Jan 24, 2021

Profle

Widian.

Pegawai Bank Mandiri Bulukumba Diduga Ikut Dagang pada BPNT, Aktivis: Kepentingan Para Berandalan
Yusril Minta KPU Tunda Penetapan Pemenang Pilkada Labuhanbatu Tahun 2020
Praka Obed Banglo, Anggota TNI Kodim 1305 Toli Toli Sulteng Sudah 3 Bulan Hilang
Akhirnya Terjawab Sudah, MK Terima Gugatan  Dan Mengadili Perkara PSU Pilkada 2020
banner

banner

Follow Us

Recommended Posts

Penyidik Kejagung Sita 2 Bidang Tanah Terkait Tersangka BTS
Terus Berproses, 2 Orang Diperiksa Sebagai Saksi Terkait Dugaan Korupsi Pada PT. ASABRI
Jaksa Agung RI Terima Kunjungan Kerja Menteri Pertanian RI
Tony Rosyid: Kerumunan, Tema Politik yang Lagi Ngetrend
OPM Makin Terdesak, Media dan Tokoh Pendukungnya Sebar Fitnah dan Hoaks